komunitas keluarga

komunitas keluarga
keluarga besar muhadi ibnu ahmad

Minggu, 23 November 2008

Selasa, 18 November 2008

Menyejukkan Hati


Menyejukkan Hati

By Mohammad Fauzil Adhim
Jika suatu ketika hatimu merasa gersang berkepanjangan, dengan apakah engkau hendak menyiraminya? Jika suatu saat jiwamu terasa jenuh dan merasakan desakan untuk menemukan spiritualitas, apakah yang akan engkau lakukan? Apakah engkau akan mengumpulkan brosur-brosur dan memilih biro perjalanan umroh terbaik yang akan mengajakmu berwisata spiritual, sesudah haji dan umrohmu yang kesekian? Atau, engkau akan menemui Dia di tempat yang Ia janjikan? Aku tak tahu, apa jawabmu. Yang aku tahu, di penghujung zaman yang semakin sepi ini, manusia semakin tak punya kekasih. Tetangga-tetangga tak ada lagi. Yang tersisa adalah rumah-rumah berpagar tinggi yang tak lagi ada sentuhan manusiawi kecuali sekadar ucapan selamat pagi. Itu pun jika berpapasan.

Padahal, manusia memiliki kerinduan untuk saling bertatap muka dengan orang lain sebagai sesama manusia. Bukan dalam suasana transaksi di atas kepentingan-kepentingan duniawi yang sepi dan permukaan, sekalipun sekilas tampak riuh dan brisik. Manusia tertawan oleh keengganannya untuk terlibat dalam percakapan dari hati ke hati. Kemudian kesepian menghinggapi. Atau, merasakan kekeringan spiritual yang tak cukup dibasahi dengan konsumsi kognisi. Di saat seperti itu, umroh dan haji akhirnya menjadi salah satu pilihan untuk rekreasi batin. Ia berharap bisa menangis di sana, di saat para janda dan anak-anak yatim kehabisan airmata karena tak ada nasi yang tersisa. Ia ekstase dan masyuk, berputar-putar tawaf, di saat saudara-saudaranya juga berlari-lari cemas demi mempertahankan emaknya yang hampir mati.

Ia merasa ''bertemu'' Tuhan, tetapi ketika pulang ia ''tinggalkan'' Tuhan di tanah suci. Ia kembali merasa terasing, karena panggilan fitrahnya untuk mencintai saudaranya sesama manusia tak pernah ia penuhi. Padahal, Tuhan menantinya di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya. Memanggil manusia untuk mendatangi mereka sambil menanggalkan jubah organisasi, instansi atau perusahaan. Mendatangi mereka tanpa jubah-jubah itu, melainkan hadir dengan empati sebagai sesama manusia ciptaan Tuhan. Inilah agaknya yang mencemaskan Ibnu Mas'ud. Wallahu'alam bishawab. Hanya Ibnu Mas'ud dan Allah yang tahu, apa yang menjadi kegelisahan Ibnu Mas'ud. Yang sampai kepada kita adalah kabar tentang perkataan Ibnu Mas'ud bahwa, di akhir zaman nanti banyak orang menunaikan ibadah haji tanpa sebab, perjalanan mereka mudah, rezeki mereka dilapangkan, namun mereka kembali dengan hampa dan dengan hal-hal yang negatif. Unta salah seorang dari mereka melaju di tengah padang pasir dan gurun yang tandus, sementara tetangganya dililit kelaparan!

Kelak, Bisyir bin al-Harits menjumpai apa yang dikatakan Ibnu Mas'ud. Bisyir rahimahullah hanya tersenyum dan mendekati orang yang bersikeras untuk berhaji lagi, tatkala Bisyir menyarankan agar uang untuk haji itu diberikan kepada orang yang membutuhkan. Bisyir berkata, ''Harta itu jika dikumpulkan dari perdagangan yang kotor dan syubhat, maka akan terputus arah tujuannya. Dan Allah telah berjanji pada diri-Nya untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertakwa.'' Nah, kalau suatu ketika engkau mengalami kegersangan hati, apakah engkau akan menyejukkannya dengan umroh dan haji berulang kali, ataukah menutupi aurat saudaramu yang bajunya tinggal sehelai?mr-republika

Rabu, 12 November 2008

Menuju Akhirat

Menuju Akhirat

By Fauzan Al-Anshari

Menuju AkhiratCORBIS
Perjalanan manusia telah dimulai sejak Nabi Adam as. pada tahun yang belum diketahui hitungan pastinya. Kita pun melihat anak-anak Adam dari generasi ke generasi telah menyelesaikan perjalanannya ke akhirat melalui dunia ini. Ada yang membutuhkan waktu 100 tahun, 500 tahun, 1.000 tahun, dan kini rata-rata hanya 60-an tahun. Betapa singkatnya waktu tempuh yang dibutuhkan manusia di dunia ini untuk sampai ke akhirat. Bahkan jika diukur dengan hari-hari di akhirat, dimana sehari di sana sama dengan seribu hari di sini, berarti tidak ada satu pun umur manusia di bumi ini yang melebihi sehari di akhirat. Nabi bersabda, bahwa perjalanan di dunia ini ibarat orang menyeberang jalan saja. Sungguh sangat sebentar. Tapi, justru yang sebentar ini banyak membuat orang lupa. Ia mengira dunia ini tempat tujuannya. Padahal dunia adalah mazra'atul akhirah (tempat menanam untuk akhirat). Di sinilah kita menanam, tapi di sanalah kita memanen.

Tak satu pun manusia akan lepas dari kematian, karena kematian adalah salah satu 'terminal' di tengah perjalanan yang harus kita lewati, bahkan menjadi tempat berhenti sejenak. Bagaikan orang bernaung di bawah rindangnya pohon di tengah perjalanan untuk melepas lelah barang sebentar, lalu melanjutkan perjalanannya kembali sampai ke tujuannya, yakni ''ibu kandungnya''. Sebagaimana dituturkan dalam Alquran, ''....adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya, maka 'ibunya' adalah Hawiyah. Tahukah kami, apakah Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas''. (QS.101:8-11).

Setiap perjalan pasti membutuhkan perbekalan. Apalagi perjalanan yang sangat jauh, tentunya bekalnya pun harus cukup supaya selamat sampai tujuan. Bedanya, perjalanan ke akhirat bekalnya tidak berbentuk materi, melainkan amal perbuatan. Setiap orang mempunyai catatan amalnya masing-masing yang dibukukan dalam sebuah kitab,'' ....di sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dizalimi''.

(QS.23:62). Yakni kitab tempat para malaikat menuliskan perbuatan-perbuatan seseorang dengan sejujur-jujurnya tanpa pilih kasih, biarpun buruk atau baik, yang akan dibacakan pada hari kiamat. Ketika setiap manusia menghadap Allah satu per satu, maka dikatakan padanya: ''Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh (para malaikat) mencatat apa saja yang telah kamu kerjakan''. (QS.45:29).

Bagi orang-orang yang timbangan kebaikannya ringan, artinya perbuatan dosanya lebih besar, maka ''ibu kandungnya'' (baca: tempat kembalinya) adalah Hawiyah. Sedangkan orang-orang yang timbangan kebaikannya berat, ''...maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan''. (QS.101.7) Siapakah mereka itu? Bagi seorang muslim, dunia bukanlah tujuan. Dunia adalah ibu tiri. Dunia bukanlah ibu yang melahirkan kita. Kita adalah anak-anak akhirat. Akhirat adalah ''ibu kandung'' kita. Akhirat adalah ''ibu'' kita yang sebenarnya. Yang selalu menjadi tempat kita mencurahkan cinta dan penuh harap. Di sanalah kita menuju dan tempat berakhir. Di sanalah peluk cium yang kita dambakan selama ini. Dunia adalah tempat kita ditempa, dididik, dan diuji. Siapa yang lulus semua ujian itu, merekalah yang berhak diterima di pangkuan ''ibu'' di surga. Tapi, siapa pun mereka yang gagal, tempatnya adalah di Hawiyah, yakni api neraka yang bergejolak. Semoga kita semua diterima sebagai anak-anak akhirat yang berbakti pada ''ibu'' dan mendapat tempat yang memuaskan.mr-republika

Istiqamah

Istiqamah

By A. Ilyas Ismail, MA
Istiqamah
Suatu hari sahabat Abdullah al-Tsaqafi meminta nasihat kepada Nabi saw agar dengan nasihat itu, ia tidak perlu bertanya-tanya lagi soal agama kepada orang lain. Lalu, Rasulullah saw bersabda, ''Qul Amantu Billah Tsumma Istaqim'' (Katakanlah, aku beriman kepada Allah, dan lalu bersikaplah istiqamah!). (H.R. Muslim).

Sabda Nabi di atas tergolong singkat, tetapi sangat padat. Menurut Qadhi 'Iyadh, hadits ini ekuivalen dengan firman Allah, ayat 30 surah Fusshilat, yang mengajarkan agar kita bersikap konsisten dan istiqamah dalam beragama, yakni senantiasa beriman kepada Allah swt dan senantiasa menjalani semua perintah-Nya. (Syarkah Shahih Mislim, juz 2/9).

Istiqamah, seperti terlihat di atas, merupakan usaha maksimal yang dapat dilakukan oleh manusia untuk senantiasa berada di jalan Allah swt. Karena itu, tidak setiap orang dapat memiliki sifat istiqamah. Sifat istiqamah, menurut sufi Abu al-Qasim al-Qusyairi, hanya dimililki oleh orang-orang yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah swt. Mengenai keutamannya, Qusyairi berkata, ''Barang siapa memiliki sifat istiqamah, maka ia akan meraih segala kesempurnaan dan segala kebajikan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki sifat istiqamah, maka semua usahanya akan sia-sia dan semua perjuangannya akan kandas.''

Tak heran bila sikap istiqamah itu menjadi harapan dan dambaan para sufi. Sufi sejati, menurut Ibn 'Athaillah al Sakandari, tak pernah mengharap keramat (al-Karamah), tetapi mengharap istiqamah, yakni sikap konsisten dalam beragama. Bahkan keramat yang sesungguhnya bagi mereka adalah sikap istiqamah itu. Sedang keramat dalam arti memperoleh sesuatu yang luar biasa (al-Khariq al-'Adat) sama sekali tak berharga dan tak ada artinya buat mereka.

Mengapa? Jawabnya, karena keramat semacam ini dapat diperoleh oleh siapa saja dan seringkali membuat tuannya sesat dan tergelincir. Sedang sifat istiqamah, selain hanya dimiliki oleh orang-orang yang takwa, juga dapat melapangkan jalan baginya menuju Allah swt, Sang Kebenaran Mutlak (Syarh Kitab Hikmah, juz 2/14).

Seorang disebut istiqamah, menurut riwayat yang bersumber dari Kulafa' al-Rasyidin, bila ia konsisten dalam empat hal. Pertama, konsisten dalam memegang teguh aqidah tauhid. Kedua, konsisten dalam menjalankan syari'at agama baik berupa perintah (al-awamir) maupun larangan (al-nawahi). Ketiga, konsisten dalam bekerja dan berkarya dengan tulus dan ikhlas karena Allah. Keempat, konsisten dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan baik dalam waktu lapang maupun dalam waktu susah.

Dalam sifat istiqamah, seperti terlihat di atas, terkandung sifat-sifat yang luhur dan terpuji, seperti sifat setia, taat asas, tepat janji, dan teguh hati. Untuk itu, Allah swt menjanjikan kepada orang-orang yang istiqamah balasan yang besar. ''Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah para penghuni sorga; mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan'' (Al-Ahqaf, 13-14). Semoga kita bisa istiqamah dalam segal hal.mr-republika

Selasa, 04 November 2008

Istikharah

Istikharah

By Republika Contributor
PrintPRINT
Istikharah

Tidaklah akan merugi orang yang suka beristikharah (memohon petunjuk dengan bersalat) dan tidaklah akan bersedih hati orang yang suka bermusyawarah, serta tidak akan kelaparan orang yang rajin menabung. (Nabi Muhammad SAW)

Memohon petunjuk Allah dengan bersalat merupakan kegiatan ibadah yang selalu kita lakukan. Ibadah yang satu ini unik dan misterius. Disebut unik karena dalam ibadah ini seolah-olah kita menelepon langsung kepada Tuhan SWT. Disebut misterius karena selalu ada jawaban atas petunjuk yang kita minta. Jawaban yang datang sering seketika. Bisa lewat mimpi, sering pula lewat gejala yang nampak dalam kegiatan kita sehari-hari. Misalnya, kita memohon jodoh. Gambaran orang yang akan menjadi jodoh kita — kadang berwujud wajah — muncul di hadapan kita.

Ibadah istikharah ini mengasah sensitivitas kita. Makin sering dilakukan, makin baik. Juga mengajarkan supaya kita selalu ingat kepada hal-hal yang baik saja. Apalagi jika kita hidup dalam suatu komunitas yang selalu menghendaki kita untuk bermusyawarah. Memohon petunjuk tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk keselamatan masyarakat tempat kita hidup. Hadis riwayat Thabrani di atas mengajarkan bahwa hidup ini dapat dibangun dengan selalu memohon petunjuk Allah. Apalagi zaman sudah semakin rumit oleh perkembangan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Hidup sehari-hari semakin membutuhkan keterampilan kita dalam mengatasinya. Kerumitan di kota-kota besar tidak kalah rumitnya dengan hidup di desa. Di kota, semuanya bisa menjadi kenyataan tetapi sangat mahal biayanya. Di kampung, impian susah menjelma, tapi kelestarian mudah didapat. Agaknya di kota maupun di desa kita perlu berhemat dalam segala hal.

Bagi para calon jemaah haji, di Tanah Suci adalah kesempatan yang seluas-luasnya untuk memohon petunjuk Allah SWT. Apalagi di masjid yang tersuci itu, Masjidil Haram. Bahkan sering kejadian, di depan Ka’bah kita dikaruniai petunjuk sebelum kita memohonnya. Petunjuk itu bahkan di luar batas kesadaran permohonan kita. Tidak perlu malu memohon petunjuk kepada Tuhan karena barangkali kita terlalu cerewet. Insya Allah Tuhan senang-senang saja atas ulah kita itu dan kita senang karena yang memberi petunjuk Tuhan sendiri. Malu bertanya, sesat di jalan, adalah petuah yang sudah kita resapi sejak kita kecil. Ayolah kita berangkat untuk beristikharah sekarang juga, mumpung kesalahan-kesalahan yang kita buat belum semakin banyak

Taman Surga Bagi Setiap Yang Berdoa

Taman Surga Bagi Setiap Yang Berdoa

By Republika Contributor
Taman Surga Bagi Setiap Yang Berdoa Kubah Hijau yang dari kejauhan tampak amat cantik di bagian depan Masjid Nabawi.

Tak afdol rasanya datang ke Madinah tanpa berziarah ke makam Baginda Rasul, junjungan yang namanya kita sebut minimal 32 kali dalam sehari semalam. Ya, ibadah di Madinah bukan sekadar shalat di Masjid Nabawi yang nilainya seribu kali lebih baik dibanding di masjid biasa, tapi juga berziarah kepada Rasullah, sang Penghulu.

Maka palingkanlah wajah ke Green Dome, Kubah Hijau yang dari kejauhan tampak amat cantik di bagian depan Masjid Nabawi. Di bawah kubah itu, manusia terbaik, dimakamkan bersama dua sahabatnya, Abu Bakar as Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Di dekat makam Rasul ada sebuah tempat yang paling cantik dibanding seluruh bagian masjid di dalam masjid. Berwarna putih keemasan dan tak pernah kosong dari jamaah, itulah Raudhah, Taman Surga. Saat ini hampir tak ada batas antara Raudhah dan Makam Rasul. Semua menjadi satu bagian di dalam Masjid Nabawi.

Bila mendekati Raudhah, kita akan melihat juga areal terbuka dengan atap berupa payung putih yang dapat dilipat. Di situlah, jamaah wanita menunggu antrean untuk bisa bergantian memasuki Raudhah. Askar dan dibantu petugas Indonesia akan mengatur rombongan jamaah perempuan yang akan memasuki Raudhah.

Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdoa. Keyakinan tersebut membuat jamaah haji dari berbagai negara yang berada di Madinah, berbondong-bondong menuju Masjid Nabawi sekaligus untuk dapat memanjatkan doa di Raudhah. Tapi Taman Surga yang terbatas itu hampir tak sebanding dengan ribuan jamaah yang ingin sekadar meletakkan dahi bersujud dan memanjatkan doa serta salam bagi Baginda yang Mulia. Perjuangan menuju Raudhah cukup berat.

Keutamaan Raudhah ini disampaikan langsung oleh Rasulullah, ”Di antara rumahku dan mimbarku adalah taman (Raudhah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari)

Pengertian Raudhah sebagai taman surga pada hadist tadi lantas ditafsirkan oleh para ahli. Antara lain di tempat itulah Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah yang tentu saja surga balasannya. Tempat itu pula akan dipindahkan oleh Allah ke surga setelah kiamat kelak, sehingga menjadi bagian taman surga yang hakiki.

Letak Raudhah sendiri, seperti dinyatakan dalam hadist Rasul, yakni antara rumah dan mimbar makam Rasul SAW. Adapun jarak antara rumah Rasul dan mimbarnya sekitar 22 meter dan panjang ke belakang 15 meter. Luas keseluruhan sekitar 144 m2. Kini Raudhah ditandai dengan pilar-pilar warna putih dengan beragam ornamen khas.

Makam Rasul sendiri berwarna hijau keemasan dengan bentuk seperti jeruji bundar. Tapi kita tak bisa melongok ke dalamnya. Jangankan melongok ke dalam, baru memandang dari kejauhan saja, air mata telah bercucuran. Di samping itu, di area Raudhah terdapat beberapa tiang (/usthuwaanah/) yang dianggap penting. Antara lain Tiang Siti Aisyah, Tiang Taubah atau lebih dikenal Tiang Abu Lubabah, Tiang as-Sarir, Tiang al-Haras serta Tiang al Wufud.

Selain beribadah shalat sunnah, di Raudah, banyak yang berdoa. Di dalam, suara-suara takbir, tahmid dan tahlil diiringi dengan shalawat kepada Rasulullah dan lirihnya doa telah bercampur jadi satu. Hampir seluruh jamaah menitikkan air mata karena terharap dosa-dosanya diampuni dan terhindar dari siksa api neraka.

Satu tempat lagi di area tersebut yang juga banyak dipadati jamaah adalah bekas serambi Rasulullah, tempatnya berada persis di belakang makam beliau. Tidak terlalu luas, hanya sekitar 5×5 meter. Seperti halnya di Raudhah, di sini tidak mudah bagi jamaah untuk bisa mendapat tempat sebelum terlebih dahulu berdesak-desakan.

Jamaah pun memanfaatkan kesempatan berada di area ini untuk shalat dua rakaat, berdzikir, berdoa maupun membaca Alquran. Para jamaah enggan untuk beranjak dari sini sebelum usai shalat Isya.

Karena areal yang terbatas itu, pengelola masjid mengatur waktu. Bagi jamaah perempuan, memasuki Raudah bisa dari pintu 29. Waktunya pukul 07.00-10.00 waktu setempat dan dibuka lagi selepas Dzuhur sekitar pukul 14.00-13.00. Di sini, jamaah dikelompokkan berdasar asal negara. Umumnya Indonesia disatukan dengan jamaah Melayu lainnya. Sedangkan jamaah Arab dikumpulkan dengan sesamanya agar tak terjadi tubrukan karena postur yang berbeda.

Bagi jamaah lelaki, tentu lebih leluasa karena bisa senantiasa masuk ke Raudhah. Namun semestinya bergantian karena jamaah lain juga ingin berziarah ke tempat itu. Bagi pria, pintu yang dianjurkan untuk memasuki Raudah dan makam Rasul adalah Pintu Jibril, berziarah ke Makam Rasul kemudian baru ke Raudhah.

Bagi penyandang cacat, tak perlu khawatir tak bisa memasuki Raudhah. Dari pintu 29 (untuk wanita), tersedia jalur khusus untuk kursi roda (arabiyat). Antrean kursi roda ini cukup panjang. Pintunya di paling kanan (di pagar pembatas antara jamaah pria dan wanita) dan akan dibuka setelah jamaah biasa masuk. Jalur kursi roda dibuat khusus. Ketika jamaah lain menunggu di bawah atap payung lipat, jamaah dengan kursi roda dibuatkan jalur khusus hingga kemudian memasuki Raudah dari arah kanan. Mereka juga di atur dengan satu ruang yang diberi pembatas tali untuk sekitar delapan kursi roda beserta pendorongnya. Pengelola Masjid Nabawi cukup memahami bahwa Raudhah tak hanya untuk mereka yang normal tapi yang memiliki keterbatasan pun ingin mendudukkan dirinya di Taman Surga dan melihat makam Rasul dari dekat.