komunitas keluarga

komunitas keluarga
keluarga besar muhadi ibnu ahmad

Rabu, 28 Januari 2009

hajj grad



P1010631.JPG




P1010590.JPG




P1010591.JPG
P1010592.JPG




P1010593.JPG




P1010595.JPG




P1010596.JPG




P1010597.JPG




P1010598.JPG




P1010600.JPG




P1010601.JPG




P1010602.JPG




P1010603.JPG




P1010604.JPG




P1010605.JPG




P1010606.JPG




P1010607.JPG




P1010608.JPG




P1010609.JPG




P1010610.JPG




P1010611.JPG




P1010612.JPG




P1010613.JPG




P1010614.JPG




P1010615.JPG




P1010616.JPG




P1010617.JPG




P1010618.JPG




P1010619.JPG




P1010620.JPG




P1010621.JPG




P1010622.JPG




P1010623.JPG




P1010624.JPG




P1010625.JPG




P1010627.JPG




P1010628.JPG




P1010629.JPG




P1010630.JPG




P1010631.JPG




P1010632.JPG




P1010633.JPG




P1010634.JPG




P1010650.JPG




P1010651.JPG




P1010652.JPG




P1010653.JPG




P1010654.JPG




P1010635.JPG




P1010636.JPG




P1010637.JPG




P1010638.JPG




P1010639.JPG




P1010640.JPG




P1010641.JPG




P1010642.JPG




P1010643.JPG




P1010644.JPG




P1010645.JPG




P1010646.JPG




P1010647.JPG




P1010648.JPG




P1010649.JPG

Senin, 12 Januari 2009

Negeri yang Aman

Negeri yang Aman

By Prof. Dr. Salman Harun
Negeri yang Aman

MAKKAH: Satu sudut kota Makkah tak jauh dari Masjidil Haram.

Fungsi pertama Kabah, sebagaimana dinyatakan dalam surah Al-Baqarah 125, yaitu matsabah, yang berarti ''tempat pengakuan dosa.'' Lalu fungsi kedua adalah amn (aman). Dalam tulisan ini hanya akan dibahas tentang fungsi yang kedua. Amn, sebagaimana dikemukakan para ulama tafsir, mengandung dua arti: keamanan dan kedamaian (sakinah).

Mengenai keamanan, itu bermula dari doa Nabi Ibrahim, ''Tuhanku! Jadikanlah negeri ini aman dan beri penduduknya rezeki buah-buahan...'' (Q. S. 4: 35). Doa itu dikabulkan Allah sebagaimana diperoleh data-datanya dalam Alquran. Di dalam surah Al-Qasas 57 diceritakan, bagaimana orang-orang menyatakan bahwa bila mereka beriman mereka akan diculik dan dibunuh. Allah lalu membantahnya dengan penegasan bahwa Tanah Suci itu aman semenjak adanya. Dalam sejarah diketahui bahwa seluruh suku Arab sangat menghormati Tempat Suci (Kabah) itu, sehingga mereka tidak mau menumpahkan darah di sana. Alquran juga menginformasikannya, ''Siapa yang memasukinya aman.'' (Q. S. 3: 97).

Tidak hanya tempat itu yang dijadikan aman, tapi juga suku Quraisy yang menjaga Kakbah itu, karena suku-suku Arab menghormati mereka sebagai penjaganya (Al-Quraisy 106). Bantahan Allah di atas sekaligus berisi pengakuan bahwa sekeliling Tanah Suci tidak aman. Ayat lain memang menyatakannya demikian, bahwa amannya Tanah Suci dan berbunuh-bunuhannya manusia di sekelilingnya itu hendaknya menjadi bukti bagi manusia untuk beriman (S. Q. 29: 67).

Dalam sejarah diketahui bahwa tidak amannya kawasan-kawasan sekelilingnya itu adalah karena mentalitas jahiliyah mereka, yaitu bahwa yang berlaku adalah ''hukum padang pasir,'' yang kuat memakan yang lemah. Segi kedua keamanan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah kedamaian. Berbeda dengan segi pertama yang menekankan aspek fisiknya, segi kedua ini berkaitan dengan aspek mental, yaitu keamanan di akhirat. Hal itu karena beribadah di depan Kakbah menimbulkan perasaan dekat dengan Allah, dan segala ibadah yang dikerjakan dan seluruh ritual haji pada umumnya kiranya didengar dan diperhatikan langsung oleh Allah.

Perhatikanlah, misalnya, hadis-hadis tentang dikabulkannya doa di Multazam, Arafah, Mina, dan diimbalinya pahala seratus ribu kali lebih besar dari ibadah yang dikerjakan di masjid-masjid lain. Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa segala perbuatan dan doa kita memang langsung terbukti di saat itu juga. Dengan demikian, hasil ibadah haji akan menentukan sejarah hidup manusia selanjutnya.

Demikianlah, semakin banyak manusia pergi haji semakin aman dunia dan semakin maju masyarakat. Meski begitu, jamaah haji tidak boleh lengah, karena tempat yang betul-betul dijamin Allah keamanannya hanyalah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Di luar itu, kehidupan mengikuti hukum sosialnya. Kehidupan jahiliyah itu akan selalu ada dan di manapun, tidak hanya di Arab. Maka apabila ada di antara jamaah kita yang mendapat sesuatu yang tidak layak, maka itu adalah karena sisa-sisa mentalitas jahiliyah yang belum habis itu. - ah.mr-republika

Yahudi dalam Alquran

Yahudi dalam Alquran

By KH Didin Hafidhuddin MSc
Yahudi dalam Alquran
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan ingatlah pula bahwasanya Allah telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS 2: 47). Ayat tersebut di atas dan beberapa ayat Alquran lainnya seperti Albaqarah ayat 122 diturunkan kepada orang-orang Yahudi yang hidup di zaman Nabi saw.

Ayat-ayat tersebut untuk mengingatkan mereka, betapa Allah SWT telah banyak memberikan nikmat kepada para nenek moyang mereka, antara lain dengan memiliki kecerdasan yang tinggi, dan banyaknya Nabi-nabi yang berasal dari kalangan mereka. Akan tetapi mereka berubah menjadi suku bangsa yang sombong, takabur, mempermainkan ayat-ayat Allah dan ajaran agama, bahkan tidak segan-segan mereka membunuh para Nabi mereka sendiri dan membunuh para dai yang selalu menyeru kepada kebaikan.

Firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyeru manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka, bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih (QS 3:21).

Demikian pula perilaku orang-orang Yahudi di zaman Nabi saw, hampir relatif sama dengan para nenek moyangnya. Mereka sangat membenci, hasad, iri, dan dengki terhadap Nabi saw dan para sahabatnya. Mereka berusaha dengan berbagai macam cara (halus maupun kasar) agar kaum Muslimin meninggalkan ajaran agamanya dan kembali menjadi kufur seperti mereka.

Firman-Nya: Sebagian besar Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran, setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran ... (QS 2: 109).

Sejarah juga telah mencatat, bahwa hampir seluruh perjanjian yang dibuat antara mereka dan Rasulullah saw, selalu mereka khianati. Karena itu, tidaklah mengherankan jika sekarang pun mereka melakukan hal yang sama. Mengkhianati hampir seluruh perjanjian damai dengan bangsa Palestina, bahkan dengan congkaknya mereka pun tidak mau tunduk kepada resolusi-resolusi yang telah dihasilkan Dewan Keamanan PBB tentang perdamaian Timur Tengah.

Sesungguhnya sikap arogan mereka ini adalah pengulangan sejarah yang telah pernah terjadi sebelumnya, sekaligus sebagai bukti kebenaran firman Allah SWT yang bersifat mutlak absolut dan universal. Karena itu, apa pun alasannya, hendaknya pemerintah tidak membuka hubungan dagang, apalagi hubungan diplomatik, dengan Israel (baca: Yahudi dan Zionis), karena hanyalah akan merugikan kita semua, sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Apalagi Alquran dan sejarah perjalanan kehidupan umat sudah memberikan peringatan kepada kita semua, kecuali jika kita memang akan menjadi bangsa yang sombong seperti mereka yang sudah tidak peduli lagi pada ayat-ayat Allah SWT. Wallahu 'alam bi ash-shawab. - ah.mr-republika

Bahasa Allah

Bahasa Allah

By Syaefudin Simon
 Bahasa Allah
Ketika kecil, kita sering mendengar dari orang tua berbagai kisah yang menggambarkan tentang keadilan Allah SWT. Di antara kisah itu diceritakan ada seorang yang pernah meragukan keadilan Allah ketika membandingkan buah semangka dan beringin. Mengapa pohon semangka itu kecil, padahal buahnya besar -- sedang beringin sebaliknya? Ketika orang itu sedang asyik mengamati 'ketidak-adilan' pada pohon beringin itu, tiba-tiba beberapa buah pohon beringin jatuh dan mengenai kepalanya.

Seketika itu ia langsung beristighfar, ''Allah Mahaadil. Coba seandainya buah beringin sebesar semangka, tentu muka saya sudah hancur.'' Sebelum mengakhiri cerita itu, orang tua kita lalu menyimpulkan bahwa itulah cara Allah memperingatkan hamba-Nya. Orang tadi beruntung karena cepat menyadari kekeliruan jalan pikirannya terhadap keadilan Allah. Ia peka akan 'tanda-tanda' alam sebagai 'bahasa' Tuhan yang mengingatkan kesalahan pandangannya.

Tanda-tanda alam sebagai 'bahasa' Tuhan sesungguhnya tidak hanya terdapat pada kisah orang tua kita di atas. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering mendapatkan berbagai peringatan dari 'bahasa' Allah itu. Dalam sejarah Islam, misalnya, 'bahasa' Allah untuk memberitahukan kepada manusia tentang kerasulan Muhammad saw, ditunjukkan dengan beraraknya awan yang selalu menaungi beliau ke mana pergi. Banyak rabbi Yahudi, antara lain Buhaira, masuk Islam setelah membaca 'bahasa' Allah tersebut.

Barangkali, kita juga sering diingatkan Allah akan kekeliruan langkah dan perilaku kita dengan bahasa-bahasa alam semacam itu. Tapi, karena kita kurang peka, peringatan-peringatan tersebut sering kita abaikan hingga akhirnya kita terkena bencana.

Sesungguhnya Allah masih terus mengingatkan hamba-hamba-Nya dengan bahasa-bahasa alam. Ketika kita menyaksikan sepotong daun yang layu dan jatuh, itu sesungguhnya 'bahasa' Allah untuk mengingatkan kita bahwa pada saatnya kedudukan daun yang terletak pada setiap bagian pohon akan lengser juga.

Ibn Al-Arabi memandang alam sebagai simbol-simbol eksistensi Tuhan. Karena itu, kejadian sehari-hari di alam bisa merupakan 'perumpamaan' dari 'bahasa' Allah. Alquran menjelaskan, ''Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun bagi orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. Tapi mereka yang kafir mengatakan, ''Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan dengan perumpamaan itu banyak pula yang diberi petunjuk ... (Al-Baqarah: 26).

Saat ini, di zaman reformasi, 'bahasa' Allah tak hanya ditunjukkan melalui bahasa-bahasa alam yang halus, tapi melalui 'bahasa-bahasa' manusia yang nyata dan terang benderang. Lihat saja, betapa banyak penguasa dan hartawan yang dulu sangat dihormati dan disembah-sembah, tiba-tiba kini dicemooh orang. Itu semua terjadi karena mereka tak mau memperhatikan 'bahasa' Allah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. - ah.mr-republika